12.7.16

MAKNA PERILAKU DALAM PENCEGAHAN AIDS


MAKNA PERILAKU DALAM PENCEGAHAN AIDS

Paulus Januar



AIDS (Aquired Immono Deficiency Syndrome) menjadi permasalahan rumit dan seringkali meluas dari kenyataan yang sebenarnya. Tanpa pemahaman secara benar kerapkali muncul sikap yang keliru dalam penanganannya hingga permasalahan AIDS semakin meruak secara tidak proporsional.

AIDS menjadi permasalahan yang mencekam karena penyebarannya yang cepat ke seluruh dunia dengan gambaran penyakit yang mengerikan serta hingga kini belum ada obat penyembuh maupun vaksin pencegahnya. Berbeda dengan wabah penyakit lainnya, masa inkubasinya hingga 5-10 tahun dan selama itu penderita tidak menampilkan gejala-gejala namun berpotensi menularkannya pada orang lain.

Penyebab AIDS adalah virus yakni HIV (Human Immunodeficency Virus) yang ditularkan melalui sperma, cairan vagina, dan darah. Ternyata penyebarannya melalui perilaku manusia yakni hubungan seksual dengan banyak pasangan (promiskuisitas), serta penggunaan narkoba suntikan melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian. Dengan demikian, walaupun virus merupakan penyebab AIDS, penyebarannya hingga meluas ke mana-mana disebabkan oleh perilaku manusia.

MENANGGAPI AIDS
          Dalam mengantisipasi penyakit ini pertama kali dianggap penyebabnya adalah perilaku seks kaum homoseksual. Hal ini karena penyakit AIDS pertama kali ditemukan di kalangan homoseksual di Amerika Serikat pada tahun 1981. Timbul gelombang kecaman terhadap kaum homoseksual karena perilaku mereka dianggap sebagai maksiat yang menimbulkan malapetaka. Namun ternyata pandangan tersebut keliru karena penderita AIDS terdapat juga pada orang-orang yang sama sekali tidak bersalah seperti mereka yang terkena AIDS dari transfusi darah yang tercemar, bayi yang ketularan dari ibunya, istri yang ditulari oleh suaminya yang menyeleweng, serta mereka yang tertular karena kecelakaan atau kecerobohan dalam pelayanan kesehatan.
          
      Strategi berikutnya adalah berusaha mencegah dengan menumbuhkan rasa takut berdasarkan mudahnya penularan serta betapa mengerikannya bila terkena AIDS. Di Australia pada awal wabah AIDS pernah dilakukan kampanye yang meluas dengan pendekatan ini. Namun yang terjadi, orang-orang yang sebenarnya tidak berisiko justru membanjiri klinik pemeriksaan, sedang mereka yang berisiko karena takutnya malah menghindari pemeriksaan dan menjadi enggan untuk menhentikan perilakunya. Ternyata pendekatan dengan menumbuhkan rasa takut secara berlebihan hanya menimbulkan gelombang panik yang justru semakin mengacaukan suasana.

Secara pragmatis dianjurkan penggunaan kondom untuk pencegahan AIDS. Namun banyak yang kemudian mempermasalahkan anjuran penggunaan kondom karena dianggap sebagai sikap membenarkan hubungan seksual di luar nikah dengan banyak mitra. Antara lain Gereja Katolik mengecam sebagai standar ganda, yakni terhadap penyalahgunaan obat bius suntikan cara mengatasinya dengan berusaha menghentikannya, tapi terhadap penyalahgunaan seksual tidak diupayakan untuk menghentikannya. 

Di lain pihak, pendekatan dengan melakukan pendidikan moral sering dikritik karena sulit dan membutuhkan waktu lama, sementara itu korban sudah banyak berjatuhan. Alasan itu menjadi pembenaran pencegahan secara praktis dengan memberikan pilihan ABC yakni “Abstinence” (Anda tidak melakukan hubungan seksual), “Be faithful” (Bertindak setia pada pasangan), dan kalau tidak bisa maka “Condom” digunakan.

Dari silang pendapat ini mencuat kenyataan bahwa bahwa untuk menghilangkan perilaku yang berisiko menularkan AIDS seringkali tidak mudah. Hal ini karena di balik perilaku tersebut terdapat makna (meaning) tertentu yang mendalam. Karena mengandung makna dalam diri pelakuknya, maka untuk mengubahnya tidak bisa dengan menakut-nakuti ataupun dengan cara sebagai seorang ‘moralis’ mengecam perilaku mereka.

Selain itu banyak yang tetap menjalankan perilaku yang berisiko penularan AIDS walau dari publikasi yang meluas telah diketahui bahaya serta cara penularan AIDS. Di sini terdapat kesenjangan antara apa yang diketahui dengan apa yang dilakukan. Tampaknya kesenjangan ini disebabkan perilaku tersebut mengandung makna yang mendalam pada diri mereka.

Berdasarkan kenyataan ini, maka dalam pencegahan AIDS perlu dilakukan upaya yang berangkat dari penelusuran mengenai makna yang mereka hayati tentang perilakunya. Makna tersebut dapat berupa pandangan, sikap, dan tata nilai yang dipersepsikan sebagai landasan perilaku tersebut.

MAKNA PERILAKU
Dalam hal hubungan seksual dengan banyak mitra berperanan besar pandangan mengenai nilai-nilai kebebasan yang dibawakan oleh perubahan sosial dalam bentuk melonggarnya ikatan komunal dan ikatan keluarga, mobilitas penduduk, serta meningkatnya dimensi anonim dalam kehidupan masyarakat. Situasi tersebut, baik disadari atau tidak, ternyata memberikan makna terhadap hubungan seksual dengan banyak mitra sebagai ekspresi kebebasan yang diharapkan dapat meraih kebahagiaan dan arti hidup.
          
Dalam kaitan hubungan seks dengan banyak mitra, maka di negara-negara berkembang pelacuran merupakan sumber terbesar penyebaran AIDS. Ternyata di kalangan para wanita pekerja seksual, profesinya memberi makna sebagai cara terakhir bagi pemenuhan kebutuhan untuk bertahan hidup karena beratnya himpitan kemiskinan. Dalam pandangan mereka, AIDS tidak seserius masalah hidup yang mereka hadapi seperti kehilangan mata pencaharian, keharusan membiayai keluarga, atau bahkan ancaman fisik terhadap keselamatan hidupnya.
          
Sedang penyalahgunaan obat bagi pemakainya dipandang memberikan makna untuk memenuhi harapan sosialnya dalam menghadapi kerasnya modernisasi. Kehidupan modern dipandang menampilkan anonimitas, kesepian, dan keterasingan hingga sulit terjalin relasi sosial yang kukuh. Selain itu di balik kemegahan peradaban terdapat pula mereka yang tersingkir, kesulitan kerja dan tidak berpengharapan. Penyalahgunaan obat bermakna untuk mendapatkan posisi sosial tertentu bagi mereka.

LANGKAH MENGATASI  
         
Berdasarkan pemahaman mengenai makna perilaku dapat diambil langkah yang tepat. Akan lebih baik lagi bila dilakukan oleh rekan mereka sendiri (peer group) karena berangkat dari kesamaan penghayatan makna perilaku mereka. Dengan bertitik tolak dari makna perilaku, maka di samping hal-hal yang pragmatis dapat dijalankan langkah-langkah mengatasi yang sifatnya lebih mendasar.
          
Terhadap perilaku hubungan seksual dengan banyak mitra perubahan perilaku dapat dijalankan dengan menanamkan pemahaman bahwa kebebasan tujuannya adalah untuk kebahagiaan hidup. Ternyata seks bebas lebih banyak menghasilkan kehampaan dan nilai manusia seringkali merosot menjadi alat pemuas nafsu. Kebahagiaan dan arti hidup lebih diperoleh pada penghargaan akan nilai-nilai keharmonisan dan ikatan yang stabil dalam kehidupan keluarga. Agaknya pendekatan ini yang dijalankan di Indonesia dalam strategi nasional pencegahan AIDS dengan menekankan pada konsep ketahanan keluarga.
          
Sedang terhadap para wanita pekerja seksual di mana profesinya memiliki makna ekonomis, maka pendekatannya adalah dengan upaya-upaya memberdayakan untuk meningkatkan kemampuan sosial ekonomi mereka. Kemudian bagi pengguna narkoba dapat diatasi antara lain dengan mengajak membangun lingkungan sosial yang lebih interaktif hingga warga masyarakat merasa mendapatkan peran dan fungsi sosial.
          
Namun perlu diperhatikan, makna perilaku yang dikemukakan di atas merupakan contoh dari beberapa kasus yang terdapat dan tidak dapat dengan begitu saja digeneralisasi. Dengan demikian setiap kali sebelum memulai suatu tindakan perubahan perilaku senantiasa perlu terlebih dahulu dilakukan penelusuran terhadap makna yang dihayati para pelakunya. Hal ini dapat dijalankan dengan menggunakan berbagai metode penelitian kualitatif seperti observasi dengan membaur dan melakukan kegiatan bersama mereka, wawancara mendalam, maupun diskusi kelompok terarah. Dengan metode ini dapat digali pemahaman mengenai pandangan, sikap dan tata nilai yang membentuk makna di balik suatu perilaku tertentu.
          
Memang pendekatan berdasarkan makna perilaku dalam rangka mencegah meluasnya AIDS membutuhkan penatalaksanaan dari berbagai aspek secara lintas sektoral. Namun dalam hal ini perlu tetap diingat bahwa wabah AIDS adalah masalah kesehatan masyarakat dimana didalamnya tercakup aspek-aspek perilaku, moral, ekonomi, dan sosial. Sungguh pekerjaan yang tidak ringan, akan tetapi dalam menghadapi pemrasalahan ini, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa peradaban manusia senantiasa mampu menciptakan strategi adaptasi dalam menghadapi penyakit. ***

----------------
Penulis adalah staf pengajar ilmu kesehatan masyarakat di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar