Paulus Januar
AIDS (Aquired
Immono Deficiency Syndrome) menjadi permasalahan rumit dan seringkali
meluas dari kenyataan yang sebenarnya. Tanpa pemahaman secara benar kerapkali
muncul sikap yang keliru dalam penanganannya hingga permasalahan AIDS semakin
meruak secara tidak proporsional.
AIDS menjadi permasalahan yang mencekam
karena penyebarannya yang cepat ke seluruh dunia dengan gambaran penyakit yang
mengerikan serta hingga kini belum ada obat penyembuh maupun vaksin
pencegahnya. Berbeda dengan wabah penyakit lainnya, masa inkubasinya hingga
5-10 tahun dan selama itu penderita tidak menampilkan gejala-gejala namun
berpotensi menularkannya pada orang lain.
Penyebab AIDS adalah virus yakni HIV (Human Immunodeficency Virus) yang
ditularkan melalui sperma, cairan vagina, dan darah. Ternyata penyebarannya
melalui perilaku manusia yakni hubungan seksual dengan banyak pasangan
(promiskuisitas), serta penggunaan narkoba suntikan melalui jarum suntik yang
digunakan secara bergantian. Dengan demikian, walaupun virus merupakan penyebab
AIDS, penyebarannya hingga meluas ke mana-mana disebabkan oleh perilaku
manusia.
MENANGGAPI AIDS
Dalam mengantisipasi penyakit ini
pertama kali dianggap penyebabnya adalah perilaku seks kaum homoseksual. Hal
ini karena penyakit AIDS pertama kali ditemukan di kalangan homoseksual di
Amerika Serikat pada tahun 1981. Timbul gelombang kecaman terhadap kaum
homoseksual karena perilaku mereka dianggap sebagai maksiat yang menimbulkan
malapetaka. Namun ternyata pandangan tersebut keliru karena penderita AIDS
terdapat juga pada orang-orang yang sama sekali tidak bersalah seperti mereka
yang terkena AIDS dari transfusi darah yang tercemar, bayi yang ketularan dari
ibunya, istri yang ditulari oleh suaminya yang menyeleweng, serta mereka yang
tertular karena kecelakaan atau kecerobohan dalam pelayanan kesehatan.
Strategi berikutnya adalah berusaha
mencegah dengan menumbuhkan rasa takut berdasarkan mudahnya penularan serta
betapa mengerikannya bila terkena AIDS. Di Australia pada awal wabah AIDS
pernah dilakukan kampanye yang meluas dengan pendekatan ini. Namun yang
terjadi, orang-orang yang sebenarnya tidak berisiko justru membanjiri klinik
pemeriksaan, sedang mereka yang berisiko karena takutnya malah menghindari
pemeriksaan dan menjadi enggan untuk menhentikan perilakunya. Ternyata
pendekatan dengan menumbuhkan rasa takut secara berlebihan hanya menimbulkan
gelombang panik yang justru semakin mengacaukan suasana.
Secara pragmatis dianjurkan penggunaan kondom
untuk pencegahan AIDS. Namun banyak yang kemudian mempermasalahkan anjuran
penggunaan kondom karena dianggap sebagai sikap membenarkan hubungan seksual di
luar nikah dengan banyak mitra. Antara lain Gereja Katolik mengecam sebagai
standar ganda, yakni terhadap penyalahgunaan obat bius suntikan cara
mengatasinya dengan berusaha menghentikannya, tapi terhadap penyalahgunaan
seksual tidak diupayakan untuk menghentikannya.
Di lain pihak, pendekatan dengan melakukan pendidikan moral sering dikritik karena sulit dan membutuhkan waktu lama, sementara itu korban sudah banyak berjatuhan. Alasan itu menjadi pembenaran pencegahan secara praktis dengan memberikan pilihan ABC yakni “Abstinence” (Anda tidak melakukan hubungan seksual), “Be faithful” (Bertindak setia pada pasangan), dan kalau tidak bisa maka “Condom” digunakan.
Di lain pihak, pendekatan dengan melakukan pendidikan moral sering dikritik karena sulit dan membutuhkan waktu lama, sementara itu korban sudah banyak berjatuhan. Alasan itu menjadi pembenaran pencegahan secara praktis dengan memberikan pilihan ABC yakni “Abstinence” (Anda tidak melakukan hubungan seksual), “Be faithful” (Bertindak setia pada pasangan), dan kalau tidak bisa maka “Condom” digunakan.
Dari silang pendapat ini mencuat kenyataan
bahwa bahwa untuk menghilangkan perilaku yang berisiko menularkan AIDS
seringkali tidak mudah. Hal ini karena di balik perilaku tersebut terdapat
makna (meaning) tertentu yang
mendalam. Karena mengandung makna dalam diri pelakuknya, maka untuk mengubahnya
tidak bisa dengan menakut-nakuti ataupun dengan cara sebagai seorang ‘moralis’
mengecam perilaku mereka.
Selain itu banyak yang tetap menjalankan
perilaku yang berisiko penularan AIDS walau dari publikasi yang meluas telah
diketahui bahaya serta cara penularan AIDS. Di sini terdapat kesenjangan antara
apa yang diketahui dengan apa yang dilakukan. Tampaknya kesenjangan ini disebabkan
perilaku tersebut mengandung makna yang mendalam pada diri mereka.
Berdasarkan kenyataan ini, maka dalam
pencegahan AIDS perlu dilakukan upaya yang berangkat dari penelusuran mengenai
makna yang mereka hayati tentang perilakunya. Makna tersebut dapat berupa
pandangan, sikap, dan tata nilai yang dipersepsikan sebagai landasan perilaku
tersebut.
MAKNA PERILAKU
Dalam hal hubungan seksual dengan
banyak mitra berperanan besar pandangan mengenai nilai-nilai kebebasan yang
dibawakan oleh perubahan sosial dalam bentuk melonggarnya ikatan komunal dan
ikatan keluarga, mobilitas penduduk, serta meningkatnya dimensi anonim dalam
kehidupan masyarakat. Situasi tersebut, baik disadari atau tidak, ternyata
memberikan makna terhadap hubungan seksual dengan banyak mitra sebagai ekspresi
kebebasan yang diharapkan dapat meraih kebahagiaan dan arti hidup.
Dalam kaitan hubungan seks dengan
banyak mitra, maka di negara-negara berkembang pelacuran merupakan sumber
terbesar penyebaran AIDS. Ternyata di kalangan para wanita pekerja seksual,
profesinya memberi makna sebagai cara terakhir bagi pemenuhan kebutuhan untuk
bertahan hidup karena beratnya himpitan kemiskinan. Dalam pandangan mereka,
AIDS tidak seserius masalah hidup yang mereka hadapi seperti kehilangan mata
pencaharian, keharusan membiayai keluarga, atau bahkan ancaman fisik terhadap
keselamatan hidupnya.
Sedang penyalahgunaan obat bagi
pemakainya dipandang memberikan makna untuk memenuhi harapan sosialnya dalam
menghadapi kerasnya modernisasi. Kehidupan modern dipandang menampilkan
anonimitas, kesepian, dan keterasingan hingga sulit terjalin relasi sosial yang
kukuh. Selain itu di balik kemegahan peradaban terdapat pula mereka yang
tersingkir, kesulitan kerja dan tidak berpengharapan. Penyalahgunaan obat
bermakna untuk mendapatkan posisi sosial tertentu bagi mereka.
LANGKAH MENGATASI
Berdasarkan pemahaman mengenai makna
perilaku dapat diambil langkah yang tepat. Akan lebih baik lagi bila dilakukan
oleh rekan mereka sendiri (peer group)
karena berangkat dari kesamaan penghayatan makna perilaku mereka. Dengan
bertitik tolak dari makna perilaku, maka di samping hal-hal yang pragmatis
dapat dijalankan langkah-langkah mengatasi yang sifatnya lebih mendasar.
Terhadap perilaku hubungan seksual
dengan banyak mitra perubahan perilaku dapat dijalankan dengan menanamkan
pemahaman bahwa kebebasan tujuannya adalah untuk kebahagiaan hidup. Ternyata
seks bebas lebih banyak menghasilkan kehampaan dan nilai manusia seringkali
merosot menjadi alat pemuas nafsu. Kebahagiaan dan arti hidup lebih diperoleh
pada penghargaan akan nilai-nilai keharmonisan dan ikatan yang stabil dalam
kehidupan keluarga. Agaknya pendekatan ini yang dijalankan di Indonesia dalam
strategi nasional pencegahan AIDS dengan menekankan pada konsep ketahanan keluarga.
Sedang terhadap para wanita pekerja
seksual di mana profesinya memiliki makna ekonomis, maka pendekatannya adalah
dengan upaya-upaya memberdayakan untuk meningkatkan kemampuan sosial ekonomi
mereka. Kemudian bagi pengguna narkoba dapat diatasi antara lain dengan
mengajak membangun lingkungan sosial yang lebih interaktif hingga warga
masyarakat merasa mendapatkan peran dan fungsi sosial.
Namun perlu diperhatikan, makna
perilaku yang dikemukakan di atas merupakan contoh dari beberapa kasus yang terdapat
dan tidak dapat dengan begitu saja digeneralisasi. Dengan demikian setiap kali
sebelum memulai suatu tindakan perubahan perilaku senantiasa perlu terlebih
dahulu dilakukan penelusuran terhadap makna yang dihayati para pelakunya. Hal
ini dapat dijalankan dengan menggunakan berbagai metode penelitian kualitatif
seperti observasi dengan membaur dan melakukan kegiatan bersama mereka,
wawancara mendalam, maupun diskusi kelompok terarah. Dengan metode ini dapat
digali pemahaman mengenai pandangan, sikap dan tata nilai yang membentuk makna
di balik suatu perilaku tertentu.
Memang pendekatan berdasarkan makna
perilaku dalam rangka mencegah meluasnya AIDS membutuhkan penatalaksanaan dari
berbagai aspek secara lintas sektoral. Namun dalam hal ini perlu tetap diingat
bahwa wabah AIDS adalah masalah kesehatan masyarakat dimana didalamnya tercakup
aspek-aspek perilaku, moral, ekonomi, dan sosial. Sungguh pekerjaan yang tidak
ringan, akan tetapi dalam menghadapi pemrasalahan ini, kenyataan sejarah
menunjukkan bahwa peradaban manusia senantiasa mampu menciptakan strategi
adaptasi dalam menghadapi penyakit. ***
----------------
Penulis adalah staf
pengajar ilmu kesehatan masyarakat di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof
Dr Moestopo (Beragama)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar