PERMASALAHAN KEPEMIMPINAN DALAM MENANGGULANGI AIDS
Paulus
Januar
HIV/AIDS merupakan permasalahan yang melanda seluruh
dunia. Walau telah banyak upaya yang dilakukan, termasuk di Indonesia, namun
permasalahannya tetap belum dapat ditanggulangi. Di Indonesia kasus AIDS
pertama kali ditemukan pada tahun 1987. Awalnya perkembangannya masih rendah
namun kemudian meningkat. Peningkatan terutama karena bertambah banyaknya
penasun (pengguna narkoba suntik) yang menggunakan jarum suntik tidak steril,
di samping melalui hubungan seksual yang berisiko. Tingginya jumlah penderita
AIDS tidak saja mengakibatkan meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan dan
tingginya angka kematian, namun juga sangat merugikan perekonomian nasional,
bahkan dapat menimbulkan kerawanan sosial.
KEPEMIMPINAN
Pengalaman menunjukkan,
sejak awal epidemi AIDS melanda dunia, ternyata kepemimpinan yang kuat,
visioner, dan memiliki komitmen merupakan faktor penting dalam penanggulangan
AIDS. Kepemimpinan dalam penanganan AIDS di Indonesia terutama dilakukan KPA
(Komisi Penanggulangan AIDS). Pada tingkat nasional KPA diketuai Menko Kesra
dengan wakilnya Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri. Sedangkan di daerah
dibentuk KPA daerah yang diketuai Gubernur.
Kepemimpinan dalam menanggulangi AIDS tidak hanya dari
pemerintah saja, melainkan kepemimpinan perlu terdapat pula pada setiap sektor
dan lapisan masyarakat secara terintegrasi. Kepemimpinan untuk
mengkoordinasikan penanggulangan AIDS diharapkan juga dari kalangan profesi,
LSM, pemuka agama, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, lingkungan
tempat tinggal, dunia usaha, dsb.
Selanjutnya meski telah
terdapat kepemimpinan, namun permasalahannya adalah sampai sejauh mana
efektifitasnya dalam menyusun dan mewujudkan program, serta komitmen dan
keteladanan yang diberikannya. Berbagai program penanggulangan AIDS seperti pencegahan,
perawatan dan dukungan, surveilans, serta penelitian, ternyata dalam
pelaksanaannya tidak terintegrasi dengan baik dan cakupannya belum meluas. Sedang
dalam hal komitmen, banyak pemuka masyarakat yang telah mengemukakan pentingnya
penanggulangan AIDS. Namun permasalahannya, kadangkala masih diwarnai
diskriminasi dan stigmatisasi terhadap penderita yang dikaitkan dengan masalah
moral dan kutukan. Padahal dari pemimpin masyarakat diharapkan keteladanan
dalam menghargai harkat kemanusiaan para ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).
Krisis kepemimpinan yang
melanda berbagai sektor kehidupan masyarakat juga menjadi permasalahan yang
harus dihadapi. Berbagai LSM yang bergerak dalam penaggulangan AIDS di
Indonesia mulai marak sejak sekitar pertengahan 90-an. Apalagi pada waktu itu
mulai banyak kucuran dana bantuan. Sayangnya setelah waktu berlalu, cukup
banyak LSM yang pimpinannya masih tetap orang yang sama saja. Akibatnya kurang
terdapat inovasi dan perkembangan yang bermakna, serta kegiatan cenderung
menjadi rutinitas belaka. Agaknya kaderisasi dan regenerasi juga merupakan
agenda permasalahan yang perlu diperhatikan pada kepemimpinan dalam
menanggulangi AIDS.
KORUPSI DAN AIDS
Selain efektifitas dan
komitmen, ternyata fungsi kontrol seringkali menjadi permasalahan dalam
kepemimpinan untuk menanggulangi AIDS. Hal ini penting bagi Indonesia yang
konon menduduki peringkat atas dalam hal korupsi. Kenyataan menunjukkan,
praktik korupsi terjadi pada berbagai sektor dan tingkatan, termasuk di bidang
kesehatan.
Terutama
dengan adanya dana bantuan bagi penanggulangan AIDS, terbuka pula peluang untuk
korupsi. Selain itu stigmatisasi kerap menyebabkan kegiatan penanggulangan AIDS
tidak dapat dikemukakan secara terbuka, hingga menyulitkan transparansi. Di
beberapa negara di Afrika yang parah dilanda AIDS, seperti Senegal, Kenya,
Nigeria, dan Zimbabwe, dilaporkan terjadi korupsi dalam bentuk mark up,
penggelapan obat, program fiktif,
pungutan liar, penelantaran pasien, dsb. Korupsi dilakukan oleh pejabat
pemerintah, LSM, maupun tenaga kesehatan. Bahkan kenyataan menunjukkan,
memberikan gaji yang tinggi kepada para pengelola program AIDS, namun tanpa
disertai sistem pengelolaan keuangan yang baik, ternyata praktik korupsi tetap
saja berlangsung.
Belajar dari pengalaman tersebut, merupakan tantangan bagi kepemimpinan dalam penanggulangan AIDS untuk mewujudkan mekanisme pengawasan yang baik. Mutlak perlu transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program penanggulangan AIDS. Di samping itu perlu pula dikembangkan kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan pengaduan terhadap kasus korupsi yang terjadi dalam penanggulangan AIDS.
-----------------------------
Dr Paulus Januar adalah
staf Laboratorium Kesehatan Masyarakat Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar