HIV/AIDS DI KALANGAN PEREMPUAN DAN REMAJA PUTRI
Paulus Januar
Selama ini perempuan dan
remaja putri merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan HIV/AIDS maupun
terhadap dampak sosial yang ditimbulkannya. Sekitar separuh penderita HIV/AIDS
di dunia adalah perempuan. Bahkan di negara berkembang remaja putri usia 15-24 tahun merupakan
mayoritas yakni lebih dari 60% dari kaum muda yang hidup dengan HIV/AIDS.
Kerentanan perempuan terhadap HIV/AIDS terutama
disebabkan ketidaktahuan, kurangnya akses pelayanan kesehatan untuk pencegahan
penularan, serta lemahnya kedudukan perempuan. Di banyak negara yang mengalami
wabah AIDS menunjukkan, kedudukannya yang lemah di masyarakat meningkatkan
risiko perempuan untuk tertular. Sebagian besar perempuan tertular melalui
suami atau pasangannya yang melakukan hubungan seks dengan banyak mitra, atau
menjadi pecandu narkoba suntikan. Dalam ketidaksetaraan gender banyak perempuan
tidak memiliki kemampuan melakukan negosiasi mengenai kesetiaan pasangannya,
apalagi bila disertai kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian
di Zambia menunjukkan hanya 11% perempuan yang berpendapat bahwa seorang istri
berhak menyuruh suaminya menggunakan kondom, meski sang suami telah terbukti
tidak setia, bahkan bila suaminya sudah
terinfeksi HIV.
Dengan demikian bagi pencegahan
HIV/AIDS perlu dilakukan pemberdayaan perempuan dan remaja putri agar memiliki
kemampuan bekata “tidak” terhadap hubungan seks yang tidak aman (unsafe sex). Di samping itu pemberdayaan
perempuan untuk kesetaraan gender diharapkan berpengaruh pula terhadap perilaku
kaum lelaki. Penelitian yang dilakukan International AIDS Alliance melaporkan
bahwa dalam ketidaksetaraan gender, pria cenderung menjalankan perilaku seksual
yang berisiko hingga meningkatkan kerentanannya untuk tertular HIV.
Perempuan dan remaja putri juga merupakan pihak yang
menerima dampak sosial dan ekonomi dari AIDS. Umumnya perempuan dibebani dengan
pekerjaan rumah tangga, dan bila ada anggota keluarga yang menderita AIDS ia
juga harus merawatnya, hingga semakin kecil kemungkinannya untuk melakukan
pekerjaan yang produktif. Dengan demikian AIDS juga meningkatkan feminisasi
kemiskinan dan menjadikan perempuan semakin tidak berdaya. Sebenarnya dalam
mhal ini juga tampak perempuan dalam perannya yang spesifik di lingkungan
keluarga maupun masyarakat menampilkan kemampuannya yang besar dalam menghadapi
HIV/AIDS. Namun seringkali peran domestik yang dijalankan oleh kaum perempuan
tidak disadari serta tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana mestinya.
Kenyataan di kalangan
remaja putri juga cukup memprihatinkan. Penelitian yang dilakukan pada beberapa
negara yang parah dilanda AIDS menunjukkan lebih dari separuh remaja putri usia
15 hingga 19 tahun sama sekali belum pernah mendengar tentang AIDS, atau
memiliki pemahaman yang keliru tentang penularan HIV. Survei di Afrika selatan
menunjukkan 33% perempuan muda mengemukakan dirinya takut menolak berhubungan
seks, dan 55% melakukan hubungan seks karena desakan pasangannya, meskipun ia
sendiri sebenarnya tidak menginginkannya. Sedangkan 20% hingga 28% remaja putri
usia 10-25 tahun mengemukakan hubungan seks yang pertama kali dilakukannya
berlangsung dibawah paksaan.
Salah
satu unsur pokok untuk mengatasinya adalah melalui pendidikan. Penelitian
menunjukkan pendidikan mengurangi kerentanan terhadap penularan HIV.
Dibandingkan dengan rekan sebayanya yang putus sekolah, ternyata remaja putri
yang masih melanjutkan sekolahnya menunjukkan tingkat pengetahuan yang lebih
baik, serta cenderung menunda hubungan seks pertamanya, di samping lebih mengupayakan proteksi diri terhadap penyakit
menular seksual. Dalam rangka menanggulangi penyebaran HIV/AIDS maka dalam
pendidikan selain memberikan
pengetahuan, juga diperlukan penanaman kesadaran yang berorientasi pada harkat
kemanusiaan dan kesetaraan gender, serta ketrampilan untuk mampu menjalani
kehidupan di tengah masyarakat (life
skill).
-------------------
Dr
Paulus Januar, drg, MS adalah staf Laboratorium Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) dan aktifis LSM
penanggulangan AIDS


Tidak ada komentar:
Posting Komentar