12.7.16

HIV AIDS DI KALANGAN PEREMPUAN DAN REMAJA PUTRI

HIV/AIDS DI KALANGAN PEREMPUAN DAN REMAJA PUTRI

Paulus Januar


Selama ini perempuan dan remaja putri merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan HIV/AIDS maupun terhadap dampak sosial yang ditimbulkannya. Sekitar separuh penderita HIV/AIDS di dunia adalah perempuan. Bahkan di negara berkembang  remaja putri usia 15-24 tahun merupakan mayoritas yakni lebih dari 60% dari kaum muda yang hidup dengan HIV/AIDS.

Kerentanan perempuan terhadap HIV/AIDS terutama disebabkan ketidaktahuan, kurangnya akses pelayanan kesehatan untuk pencegahan penularan, serta lemahnya kedudukan perempuan. Di banyak negara yang mengalami wabah AIDS menunjukkan, kedudukannya yang lemah di masyarakat meningkatkan risiko perempuan untuk tertular. Sebagian besar perempuan tertular melalui suami atau pasangannya yang melakukan hubungan seks dengan banyak mitra, atau menjadi pecandu narkoba suntikan. Dalam ketidaksetaraan gender banyak perempuan tidak memiliki kemampuan melakukan negosiasi mengenai kesetiaan pasangannya, apalagi bila disertai kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian di Zambia menunjukkan hanya 11% perempuan yang berpendapat bahwa seorang istri berhak menyuruh suaminya menggunakan kondom, meski sang suami telah terbukti tidak setia, bahkan  bila suaminya sudah terinfeksi HIV.

Dengan demikian bagi pencegahan HIV/AIDS perlu dilakukan pemberdayaan perempuan dan remaja putri agar memiliki kemampuan bekata “tidak” terhadap hubungan seks yang tidak aman (unsafe sex). Di samping itu pemberdayaan perempuan untuk kesetaraan gender diharapkan berpengaruh pula terhadap perilaku kaum lelaki. Penelitian yang dilakukan International AIDS Alliance melaporkan bahwa dalam ketidaksetaraan gender, pria cenderung menjalankan perilaku seksual yang berisiko hingga meningkatkan kerentanannya untuk tertular HIV.

Perempuan dan remaja putri juga merupakan pihak yang menerima dampak sosial dan ekonomi dari AIDS. Umumnya perempuan dibebani dengan pekerjaan rumah tangga, dan bila ada anggota keluarga yang menderita AIDS ia juga harus merawatnya, hingga semakin kecil kemungkinannya untuk melakukan pekerjaan yang produktif. Dengan demikian AIDS juga meningkatkan feminisasi kemiskinan dan menjadikan perempuan semakin tidak berdaya. Sebenarnya dalam mhal ini juga tampak perempuan dalam perannya yang spesifik di lingkungan keluarga maupun masyarakat menampilkan kemampuannya yang besar dalam menghadapi HIV/AIDS. Namun seringkali peran domestik yang dijalankan oleh kaum perempuan tidak disadari serta tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana mestinya. 

Kenyataan di kalangan remaja putri juga cukup memprihatinkan. Penelitian yang dilakukan pada beberapa negara yang parah dilanda AIDS menunjukkan lebih dari separuh remaja putri usia 15 hingga 19 tahun sama sekali belum pernah mendengar tentang AIDS, atau memiliki pemahaman yang keliru tentang penularan HIV. Survei di Afrika selatan menunjukkan 33% perempuan muda mengemukakan dirinya takut menolak berhubungan seks, dan 55% melakukan hubungan seks karena desakan pasangannya, meskipun ia sendiri sebenarnya tidak menginginkannya. Sedangkan 20% hingga 28% remaja putri usia 10-25 tahun mengemukakan hubungan seks yang pertama kali dilakukannya berlangsung dibawah paksaan.

Salah satu unsur pokok untuk mengatasinya adalah melalui pendidikan. Penelitian menunjukkan pendidikan mengurangi kerentanan terhadap penularan HIV. Dibandingkan dengan rekan sebayanya yang putus sekolah, ternyata remaja putri yang masih melanjutkan sekolahnya menunjukkan tingkat pengetahuan yang lebih baik, serta cenderung menunda hubungan seks pertamanya, di samping lebih  mengupayakan proteksi diri terhadap penyakit menular seksual. Dalam rangka menanggulangi penyebaran HIV/AIDS maka dalam pendidikan selain  memberikan pengetahuan, juga diperlukan penanaman kesadaran yang berorientasi pada harkat kemanusiaan dan kesetaraan gender, serta ketrampilan untuk mampu menjalani kehidupan di tengah masyarakat (life skill). 
-------------------

Dr Paulus Januar, drg, MS adalah staf Laboratorium Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) dan aktifis LSM penanggulangan AIDS 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar