AIDS SEBAGAI TANTANGAN
KEHIDUPAN BERAGAMA:
Apakah
AIDS merupakan kutukan Tuhan?
Paulus
Januar
Dalam sejarah peradaban manusia modern, agaknya AIDS (Aquired Immune Deficiency Sindrome) merupakan penyakit yang paling serius menimbulkan masalah bukan hanya dalam bidang kesehatan, tapi juga dalam aspek kemasyarakatan lainnya. AIDS sebagai penyakit yang mengerikan tiba-tiba muncul tanpa diketahui dari mana asalnya, menyebar dengan cepat, dan selalu berakhir dengan kematian. Kecanggihan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang kedokteran dan rekayasa sosial ternyata tidak mampu mengatasinya. Kemudian ketidakberdayaan yang disertai rasa takut telah menimbulkan gelombang panik yang melanda seluruh dunia. Dalam keadaan panik tersebut tidak mustahil kalau sampai terlontar sikap memusuhi dan diskriminatif terhadap penderita AIDS.
ISYARAT ZAMAN
Penularan
AIDS yang dikaitkan dengan homoseksualitas, hubungan seks di luar nikah dengan
berganti-ganti patner, pelacuran, perselingkuhan serta penggunaan obat bius
suntikan menjadi alasan hingga para penderita AIDS dikategorikan sebagai mereka
yang melanggar norma susila dan agama. Tidak jarang penderita AIDS dianggap
sebagai mereka yang dikutuk Tuhan sebagai hukuman atas dosa-dosa yang
dilakukannya. Bukankah menurut agama, pelanggaran di bidang seks merupakan dosa
besar yang dimurkai Allah. Bahkan sering terlontar usul agar penderita AIDS
diasingkan, malah kalau perlu dihukum mati. Alasannya bukan hanya untuk
melindungi keselamatan orang lain, melainkan terlebih karena faktor kemaksiatan
yang mereka lakukan.
Kenyataan
ini sebenarnya bukan hal yang baru. Di masa lalu penderita kusta sering
dikucilkan dan secara semena-mena dituduh sebagai kutukan Tuhan. Kini penderita
AIDS mendapat stigma sebagai pendosa. Memang AIDS mungkin menghinggapi seorang
pendosa, tetapi mungkin juga seorang istri/suami ditulari oleh pasangannya yang
menyeleweng, atau seorang bayi ditulari oleh orang tuanya, dapat pula orang
menderita AIDS karena menerima transfusi darah yang tercemar HIV. Pertanyaannya, mengapa mereka juga terkena
AIDS? Kemudian tentang dosa, bukankah kita semua tidak luput dari dosa? Namun
mengapa hanya penderita AIDS yang dikutuk?
Harus
diakui, sebagian besar penularan AIDS
terjadi karena hubungan seks di luar nikah dengan patner yang berganti-ganti.
Sekali pun dosa seksual belum tentu lebih ringan, tapi yang pasti dosa seksual
belum tentu lebih berat dari dosa lain misalnya membunuh, menindas rakyat,
korupsi uang negara dan lain sebagainya. Kalau dosa seksual dikutuk dengan AIDS,
mestinya dosa yang lebih berat dikutuk dengan wabah yang lebih hebat lagi!
Sejak
awal sejarah umat manusia, dosa
merupakan sumber segala kesengsaraan termasuk sakit dan kematian.
Kesengsaraan dalam kehidupan manusia selain akibat dosa juga sebenarnya isyarat
agar kembali ke jalan yang benar. Dalam hal ini tepat sekali yang selama ini dilakukan
pimpinan agama untuk mengajak dan mendorong umatnya agar menghindari perbuatan
dosa yang walaupun mungkin memberi kenikmatan namun amat fatal akibatnya.
Sedang bila sudah terjerumus ke lembah dosa masih senantiasa diharapkan untuk
menginsyafi kesalahannya. Dari pemahaman ini,
AIDS dapat dilihat sebagai isyarat zaman untuk menyadarkan umat manusia
dari kesombongan dan dosa-dosanya, karena akibat dosa bukan hanya mengenai
dirinya namun dapat pula menimpa orang lain yang tidak bersalah. Dengan
demikian terhadap pendosa yang menderita AIDS sebaiknya bukan dengan secara
semena-mena menghakiminya, melainkan yang lebih penting adalah mengusahakan
agar ia menyesali perbuatannya dan memperbaiki hubungannya dengan Allah
penciptanya.
Berhadapan
dengan AIDS dari pada mengutukinya, sebagai umat beragama sebenarnya lebih
diharapkan bersikap di mana ada kesesatan kita menunjukkan jalan yang benar, di
mana ada dosa kita membawakan kebaikan, di mana ada kebencian kita membawakan
kasih sayang, serta kepada mereka yang putus asa kita membawakan pengharapan.
Dengan adanya AIDS, tuntutan tersebut semakin nyata untuk segera diwujudkan.
Ini yang sebenarnya lebih merupakan tantangan bagi umat beragama di zaman
AIDS.
DIMENSI BARU
AIDS
sebagai isyarat zaman dapat pula
menambah dimensi baru dalam kehidupan beragama ke arah yang lebih baik. AIDS
yang sebagian besar timbul karena dosa seksual sebenarnya dapat menjadi pembuka
mata bagi umat beragama untuk mawas diri. Memang penyebab penyakit AIDS adalah
virus HIV, namun penyebab penyebarannya adalah perilaku manusia terutama di
bidang seksual. Dari kenyataan ini sebenarnya sebagai umat beragama dapat
menjadi bahan untuk mawas diri bahwasanya masih terdapat kekurangmampuan untuk
menanamkan panduan moralitas terutama di bidang seks. Kesadaran
ini akan menjadi pendorong yang sangat kuat agar bangkit dan berusaha
berbuat sesuatu untuk menghindari
keadaan yang lebih buruk lagi.
Sebenarnya
selama ini telah banyak dilakukan pendekatan dari segi kesehatan masyarakat
untuk mencegah semakin menyebarnya AIDS. Penyuluhan kesehatan masyarakat
umumnya berusaha memberikan pemahaman mengenai penyakit AIDS. Dengan upaya tersebut diharapkan orang akan
merasa dirinya rentan serta takut terkena penyakit AIDS, hingga timbul
keinginan untuk menghindarinya melalui perilaku seksual yang baik. Sedangkan
pendekatan dari segi agama sangat berbeda. Dengan pendekatan dari segi agama, maka iman dan takwa kepada Allah akan
menumbuhkan keyakinan, tata nilai yang benar, pandangan hidup serta harapan.
Motivasi yang dikembangkan jauh lebih kuat dari motivasi berdasarkan rasa takut
yang dihasilkan penyuluhan kesehatan masyarakat
yang bersifat sekular. Di sinilah sebenarnya peran besar yang diharapkan
dari umat beragama untuk membebaskan kemanusiaan dari ancaman kehancuran karena
perilaku seksual yang menyimpang.
TANTANGAN MENDATANG
Selanjutnya
dalam menghadapi AIDS, di masa mendatang
besar sekali tantangan yang harus dihadapi. Sudah
siapkah gerakan umat beragama untuk mengatasinya? Selain upaya pencegahan yang
sekarang sudah dijalankan oleh berbagai kelompok agama, perlu pula disiapkan
upaya penanganan bagi mereka yang sudah mengindap HIV/AIDS. Di negara-negara yang telah parah dilanda
AIDS, dari berbagai gerakan agama bermunculan kelompok-kelompok relawan untuk
membantu para penderita HIV/AIDS. Para
relawan tersebut selain merawat juga memberikan dukungan moral dan spiritual. Terutama terhadap penderita HIV/AIDS
dilakukan pendampingan agar diteguhkan imannya serta mendapatkan kedamaian dan
keberanian dalam menyongsong akhir hayatnya. Di samping itu kepada para
penderita serta keluarganya dibantu pula
dalam mengatasi masalah sosial, psikologi, dan ekonomi yang dialaminya.
Menghadapi
AIDS memang banyak pekerjaan yang perlu dilakukan oleh gerakan umat beragama
untuk menanggulanginya. Di satu sisi, AIDS membawa malapetaka, namun AIDS juga
dapat menjadi pemicu untuk perbaikan yang besar dan mendasar dalam kehidupan
masyarakat. Dari fenomena AIDS kita dapat belajar banyak mengenai perlu
ditegakkannya nilai-nilai susila dan agama, pengabdian pada sesama,
keprihatinan, penderitaan, pertobatan, serta juga harapan dan penghargaan akan
martabat manusia.
-----------------------------
Dr Paulus Januar, drg, MS adalah pengajar kesehtan masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Univerisitas Prof Dr Moestopo (Beragama) dan pengurus Komisi Kerasulan Awam Konperensi Waligereja Indonesia (KWI) periode 2005-2013
Dr Paulus Januar, drg, MS adalah pengajar kesehtan masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Univerisitas Prof Dr Moestopo (Beragama) dan pengurus Komisi Kerasulan Awam Konperensi Waligereja Indonesia (KWI) periode 2005-2013



Tidak ada komentar:
Posting Komentar