12.7.16

AIDS TANTANGAN KEHIDUPAN BERAGAMA

AIDS SEBAGAI TANTANGAN KEHIDUPAN BERAGAMA:
Apakah AIDS merupakan kutukan Tuhan?

Paulus Januar
           

Dalam sejarah peradaban manusia modern, agaknya AIDS (Aquired Immune Deficiency Sindrome) merupakan penyakit yang paling serius menimbulkan masalah bukan hanya dalam bidang kesehatan, tapi juga dalam aspek kemasyarakatan lainnya. AIDS sebagai penyakit yang mengerikan tiba-tiba muncul tanpa diketahui dari mana asalnya, menyebar dengan cepat, dan selalu berakhir dengan kematian. Kecanggihan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang  kedokteran dan rekayasa sosial ternyata tidak mampu mengatasinya. Kemudian ketidakberdayaan yang disertai rasa takut telah menimbulkan gelombang panik yang melanda seluruh dunia. Dalam keadaan panik tersebut tidak mustahil kalau sampai terlontar sikap memusuhi dan diskriminatif terhadap penderita AIDS.

ISYARAT ZAMAN

Penularan AIDS yang dikaitkan dengan homoseksualitas, hubungan seks di luar nikah dengan berganti-ganti patner, pelacuran, perselingkuhan serta penggunaan obat bius suntikan menjadi alasan hingga para penderita AIDS dikategorikan sebagai mereka yang melanggar norma susila dan agama. Tidak jarang penderita AIDS dianggap sebagai mereka yang dikutuk Tuhan sebagai hukuman atas dosa-dosa yang dilakukannya. Bukankah menurut agama, pelanggaran di bidang seks merupakan dosa besar yang dimurkai Allah. Bahkan sering terlontar usul agar penderita AIDS diasingkan, malah kalau perlu dihukum mati. Alasannya bukan hanya untuk melindungi keselamatan orang lain, melainkan terlebih karena faktor kemaksiatan yang mereka lakukan.

Kenyataan ini sebenarnya bukan hal yang baru. Di masa lalu penderita kusta sering dikucilkan dan secara semena-mena dituduh sebagai kutukan Tuhan. Kini penderita AIDS mendapat stigma sebagai pendosa. Memang AIDS mungkin menghinggapi seorang pendosa, tetapi mungkin juga seorang istri/suami ditulari oleh pasangannya yang menyeleweng, atau seorang bayi ditulari oleh orang tuanya, dapat pula orang menderita AIDS karena menerima transfusi darah yang tercemar HIV.  Pertanyaannya, mengapa mereka juga terkena AIDS? Kemudian tentang dosa, bukankah kita semua tidak luput dari dosa? Namun mengapa hanya penderita AIDS yang dikutuk? 

Harus diakui, sebagian besar penularan AIDS terjadi karena hubungan seks di luar nikah dengan patner yang berganti-ganti. Sekali pun dosa seksual belum tentu lebih ringan, tapi yang pasti dosa seksual belum tentu lebih berat dari dosa lain misalnya membunuh, menindas rakyat, korupsi uang negara dan lain sebagainya. Kalau dosa seksual dikutuk dengan AIDS, mestinya dosa yang lebih berat dikutuk dengan wabah yang lebih hebat lagi!

Sejak awal sejarah umat manusia, dosa  merupakan sumber segala kesengsaraan termasuk sakit dan kematian. Kesengsaraan dalam kehidupan manusia selain akibat dosa juga sebenarnya isyarat agar kembali ke jalan yang benar. Dalam hal ini tepat sekali yang selama ini dilakukan pimpinan agama untuk mengajak dan mendorong umatnya agar menghindari perbuatan dosa yang walaupun mungkin memberi kenikmatan namun amat fatal akibatnya. Sedang bila sudah terjerumus ke lembah dosa masih senantiasa diharapkan untuk menginsyafi kesalahannya. Dari pemahaman ini,  AIDS dapat dilihat sebagai isyarat zaman untuk menyadarkan umat manusia dari kesombongan dan dosa-dosanya, karena akibat dosa bukan hanya mengenai dirinya namun dapat pula menimpa orang lain yang tidak bersalah. Dengan demikian terhadap pendosa yang menderita AIDS sebaiknya bukan dengan secara semena-mena menghakiminya, melainkan yang lebih penting adalah mengusahakan agar ia menyesali perbuatannya dan memperbaiki hubungannya dengan Allah penciptanya.

Berhadapan dengan AIDS dari pada mengutukinya, sebagai umat beragama sebenarnya lebih diharapkan bersikap di mana ada kesesatan kita menunjukkan jalan yang benar, di mana ada dosa kita membawakan kebaikan, di mana ada kebencian kita membawakan kasih sayang, serta kepada mereka yang putus asa kita membawakan pengharapan. Dengan adanya AIDS, tuntutan tersebut semakin nyata untuk segera diwujudkan. Ini yang sebenarnya lebih merupakan tantangan bagi umat beragama di zaman AIDS.    

DIMENSI BARU

AIDS sebagai isyarat zaman  dapat pula menambah dimensi baru dalam kehidupan beragama ke arah yang lebih baik. AIDS yang sebagian besar timbul karena dosa seksual sebenarnya dapat menjadi pembuka mata bagi umat beragama untuk mawas diri. Memang penyebab penyakit AIDS adalah virus HIV, namun penyebab penyebarannya adalah perilaku manusia terutama di bidang seksual. Dari kenyataan ini sebenarnya sebagai umat beragama dapat menjadi bahan untuk mawas diri bahwasanya masih terdapat kekurangmampuan untuk menanamkan panduan moralitas terutama di bidang seks.  Kesadaran  ini akan menjadi pendorong yang sangat kuat agar bangkit dan berusaha berbuat sesuatu untuk menghindari  keadaan yang lebih buruk lagi.

Sebenarnya selama ini telah banyak dilakukan pendekatan dari segi kesehatan masyarakat untuk mencegah semakin menyebarnya AIDS. Penyuluhan kesehatan masyarakat umumnya berusaha memberikan pemahaman mengenai penyakit AIDS.  Dengan upaya tersebut diharapkan orang akan merasa dirinya rentan serta takut terkena penyakit AIDS, hingga timbul keinginan untuk menghindarinya melalui perilaku seksual yang baik. Sedangkan pendekatan dari segi agama sangat berbeda. Dengan pendekatan dari segi agama, maka iman dan takwa kepada Allah akan menumbuhkan keyakinan, tata nilai yang benar, pandangan hidup serta harapan. Motivasi yang dikembangkan jauh lebih kuat dari motivasi berdasarkan rasa takut yang dihasilkan penyuluhan kesehatan masyarakat  yang bersifat sekular. Di sinilah sebenarnya peran besar yang diharapkan dari umat beragama untuk membebaskan kemanusiaan dari ancaman kehancuran karena perilaku seksual yang menyimpang.

TANTANGAN MENDATANG

Selanjutnya dalam menghadapi AIDS,  di masa mendatang besar sekali tantangan yang harus dihadapi. Sudah siapkah gerakan umat beragama untuk mengatasinya? Selain upaya pencegahan yang sekarang sudah dijalankan oleh berbagai kelompok agama, perlu pula disiapkan upaya penanganan bagi mereka yang sudah mengindap HIV/AIDS.  Di negara-negara yang telah parah dilanda AIDS, dari berbagai gerakan agama bermunculan kelompok-kelompok relawan untuk membantu para penderita HIV/AIDS.  Para relawan tersebut selain merawat juga memberikan dukungan moral dan spiritual. Terutama terhadap penderita HIV/AIDS dilakukan pendampingan agar diteguhkan imannya serta mendapatkan kedamaian dan keberanian dalam menyongsong akhir hayatnya. Di samping itu kepada para penderita serta  keluarganya dibantu pula dalam mengatasi masalah sosial, psikologi, dan ekonomi yang dialaminya.

Menghadapi AIDS memang banyak pekerjaan yang perlu dilakukan oleh gerakan umat beragama untuk menanggulanginya. Di satu sisi, AIDS membawa malapetaka, namun AIDS juga dapat menjadi pemicu untuk perbaikan yang besar dan mendasar dalam kehidupan masyarakat. Dari fenomena AIDS kita dapat belajar banyak mengenai perlu ditegakkannya nilai-nilai susila dan agama, pengabdian pada sesama, keprihatinan, penderitaan, pertobatan, serta juga harapan dan penghargaan akan martabat manusia.
 -----------------------------
Dr Paulus Januar, drg, MS adalah pengajar kesehtan masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Univerisitas Prof Dr Moestopo (Beragama) dan pengurus Komisi Kerasulan Awam Konperensi Waligereja Indonesia (KWI) periode 2005-2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar