12.7.16

AIDS DAN REVOLUSI SEKSUAL


AIDS DAN REVOLUSI SEKSUAL

Paulus Januar

AIDS (Aquired Immuno Deficiency Sindrome) memang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), tapi penyebarannya antara lain terutama karena perilaku dalam bentuk hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti (promiskuisitas). WHO (World Health Organization) memperkirakan di seluruh dunia 70-80% penularan HIV karena hubungan seksual baik secara vaginal maupun anal.

Pola penularan HIV yang meluas ini merupakan dampak dari revolusi seksual yang berlangsung pada era 1960-an. Kemajuan peradaban telah mengoyahkan nilai-nilai tradisional. Pandangan mengenai kebebasan di bidang seksual mengakibatkan seksualitas yang tadinya dipandang sakral dan penuh dengan hal tabu, kemudian digantikan dengan faham seks bebas (free sex). Berlangsung hubungan seks diluar pernikahan, merebaknya homoseksualitas dan lesbian, serta media massa dan publikasi maupun karya seni yang menayangkan kebebasan seksual.   

Risiko yang tadinya menyertai penyalahgunaan kehidupan seksual seolah-olah dapat diatasi dengan sarana pencegah kehamilan, obat yang mujarab untuk penyakit kelamin, serta aborsi dengan risiko yang kecil. Hingga di sini dapat dimengerti munculnya AIDS menimbulkan kegoncangan terhadap kepongahan peradaban masyarakat barat. Ternyata kecangihan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat mengatasi penyakit AIDS.

Terutama di negara yang parah dilanda wabah AIDS berlangsung perubahan sikap dan perilaku seksual masyarakat yang pada gilirannya membawakan perubahan sosial. Tampak kecenderungan lebih menghargai kesetiaan serta ikatan yang stabil dan berjangka panjang dalam kehidupan berkeluarga. Apalagi dari pengalaman kebebasan revolusi seksual yang tujuannya mencari arti kepuasan ternyata lebih menghasilkan kehampaan dan instrumentasi manusia sebagai alat pemuas nafsu. Sebagai akibatnya, masyarakat berusaha mencari pola hubungan baru antara ria dan wanita. Implikasi sosial ini diperkirakan akan berpengaruh pula pada film, musik, dan seni.

Namun di kalangan sebagian masyarakat, pengaruh revolusi seksual tidaklah hilang sama sekali. Perilaku seks bebas masih juga ada yang melakukannya. Tapi kini dilakukan dengan mempertimbangkan bahaya penularan HIV. Sebelum melakukan hubungan seksual berkembang kebiasaan untuk memastikan apakah seseorang bebas dari penyakit menular seksual dan kalau perlu dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Ke mudian secara praktis untuk mereduksi risiko dikembangkan praktik seks yang aman (safe sex).

------------------

Drg Paulus Januar, MS adalah pengajar Ilmu Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar