AIDS DAN REVOLUSI SEKSUAL
Paulus Januar
AIDS (Aquired Immuno Deficiency Sindrome) memang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), tapi penyebarannya antara lain terutama karena
perilaku dalam bentuk hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti
(promiskuisitas). WHO (World Health Organization) memperkirakan di seluruh dunia 70-80% penularan HIV
karena hubungan seksual baik secara vaginal maupun anal.
Pola
penularan HIV yang meluas ini merupakan dampak dari revolusi seksual yang
berlangsung pada era 1960-an. Kemajuan peradaban telah mengoyahkan nilai-nilai
tradisional. Pandangan mengenai kebebasan di bidang seksual mengakibatkan
seksualitas yang tadinya dipandang sakral dan penuh dengan hal tabu, kemudian
digantikan dengan faham seks bebas (free
sex). Berlangsung hubungan seks diluar pernikahan, merebaknya homoseksualitas
dan lesbian, serta media massa dan publikasi maupun karya seni yang menayangkan
kebebasan seksual.
Risiko
yang tadinya menyertai penyalahgunaan kehidupan seksual seolah-olah dapat diatasi
dengan sarana pencegah kehamilan, obat yang mujarab untuk penyakit kelamin,
serta aborsi dengan risiko yang kecil. Hingga di sini dapat dimengerti
munculnya AIDS menimbulkan kegoncangan terhadap kepongahan peradaban masyarakat
barat. Ternyata kecangihan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat mengatasi
penyakit AIDS.
Terutama
di negara yang parah dilanda wabah AIDS berlangsung perubahan sikap dan
perilaku seksual masyarakat yang pada gilirannya membawakan perubahan sosial.
Tampak kecenderungan lebih menghargai kesetiaan serta ikatan yang stabil dan
berjangka panjang dalam kehidupan berkeluarga. Apalagi dari pengalaman
kebebasan revolusi seksual yang tujuannya mencari arti kepuasan ternyata lebih
menghasilkan kehampaan dan instrumentasi manusia sebagai alat pemuas nafsu.
Sebagai akibatnya, masyarakat berusaha mencari pola hubungan baru antara ria
dan wanita. Implikasi sosial ini diperkirakan akan berpengaruh pula pada film,
musik, dan seni.
Namun
di kalangan sebagian masyarakat, pengaruh revolusi seksual tidaklah hilang sama
sekali. Perilaku seks bebas masih juga ada yang melakukannya. Tapi kini
dilakukan dengan mempertimbangkan bahaya penularan HIV. Sebelum melakukan
hubungan seksual berkembang kebiasaan untuk memastikan apakah seseorang bebas
dari penyakit menular seksual dan kalau perlu dilakukan pemeriksaan terlebih
dahulu. Ke mudian secara praktis untuk mereduksi risiko dikembangkan praktik
seks yang aman (safe sex).
------------------
Drg
Paulus Januar, MS adalah pengajar Ilmu
Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof Dr Moestopo
(Beragama)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar