IMPLIKASI
SOSIAL DARI WABAH AIDS
Paulus
Januar
Dapat
dikatakan AIDS (Acute Immuno Deficiency
Sindrome) merupakan krisis kesehatan paling serius di jaman modern.
Ternyata AIDS bukan hanya masalah kesehatan, lebih jauh lagi berkaitan dengan
serentetan masalah sosial yang melanda banyak negara. Dalam mengatasinya agaknya perlu mempelajari implikasi sosial terjadi
di belahan dunia lain yang telah dilanda AIDS agar mampu mengambil
kebijaksanaan yang tepat.
PANIK
Munculnya
AIDS sebagai penyakit yang misterius dan mengerikan melahirkan gelombang panik
yang melanda masyarakat. Apalagi ketika penyebarannya secara tak terduga
berlangsung cepat dan menimbulkan banyak kematian. Bahkan AIDS juga menimpa
mereka yang tidak bersalah seperti bayi yang ditulari orang tuanya atau mereka
yang menerima transfusi darah yang tercemar virus HIV (Human Immunodeficiency
Virus) yang merupakan virus penyebab
AIDS.
Reaksi
spontan adalah mencari penyebabnya. Pertama kali yang dituduh adalah kaum
homoseksual. Di Indonesia pun pada awalnya akronim AIDS sering diplesetkan
sebagai ‘Akibat Intim Dengan Sejenis’. Implikasinya kaum homoseksual dipandang
sebagai kelompok sosial yang mengindap penyakit ini dan menularkannya. Meski
kemudian terbukti bahwa penularan terjadi baik pada hubungan heteroseksual
maupun homoseksual, namun tidak mudah mengubah pandangan keliru yang sudah
tertanam di masyarakat.
Manifestasi
lain dari rasa takut terhadap HIV/AIDS dalam bentuk tuntutan untuk melakukan
kewajiban pemeriksaan (mandatory testing).
Tetapi sebenarnya lebih banyak kerugian ketimbang keuntungannya. Kewajiban tersebut membutuhkan biaya yang
besar sekali. Beberapa pertimbangan mengemukakan, lebih baik biaya tersebut
digunakan untuk pendidikan kesehatan masyarakat agar mencegah penularan
HIV/AIDS. Malah dikhawatirkan bila kewajiban ini dilaksanakan, bagi mereka yang
hasilnya HIV negatif akan tumbuh rasa aman semu hingga mengabaikan prosedur
pencegahan. Sedangkan kalau kewajiban hanya pada mereka yang berisiko tinggi,
kesulitannya mereka tidak dapat secara jelas diidentifikasi.
Sebagai
alternatif yang lebih baik dianjurkan melaksanakan pendidikan kesehatan dan
konseling hingga mereka yang berisiko mengindap HIV akan tumbuh kesadaran untuk
memeriksakan diri secara sukarela. Di samping itu hasil yang lebih diharapkan
dari pendidikan kesehatan adalah terbinanya perilaku yang sesuai dengan
norma-norma kesehatan.
Namun
pendidikan kesehatan perlu juga dilakukan dengan seksama agar tidak terjadi
implikasi sosial seperti di Australia pada tahun 1987. Di negara itu kampanye
AIDS dengan tema ‘Grim Reaper’,
simbol tradisional mengenai kematian memang sangat sukses menarik perhatian
masyarakat. Namun akibatnya masyarakat menjadi takut dan berbondong-bondong
meminta diperiksa HIV statusnya. Padahal mereka termasuk kelompok berisiko
rendah, sedangkan mereka yang berisiko tinggi malah tidak. Program tersebut
ternyata lebih menimbulkan rasa takut, tapi rasa takut tersebut tidak
menumbuhkan minat mencari informasi lebih lanjut, dan juga tidak mendorong
perubahan perilaku. Belajar dari pengalaman tersebut maka kampanye berikutnya
sifatnya tidak terlalu menakutkan, lebih ditujukan pada kelompok sasaran
tertentu serta lebih melibatkan masyarakat.
RUSAKNYA ASET
NASIONAL
Selain
di negara barat, infeksi HIV/AIDS terutama meluas di Afrika. Harga yang harus
dibayar akibat berjangkitnya AIDS terutama hilangnya anggota masyarakat yang
masih produktif, khususnya yang berusia 20-40 tahun. Di banyak negara Afrika
yang terkena terutama tenaga kerja terdidik. Mereka banyak terkena HIV/AIDS
karena tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi berkorelasi dengan jumlah
partner seksual dan juga karena mereka lebih mampu plesir ke tempat pelacuran.
Efeknya
terasa sekali terutama di negara miskin di Afrika yang tenaga terdidiknya
sangat sedikit. Di beberapa negara Afrika bahkan banyak perusahaan harus tutup karena
kehilangan pegawainya. AIDS mempengaruhi kepemimpinan dan stabilitas politik
beberapa negara Afrika, karena jumlah kaum terdidik sedikit, maka mereka akan
digantikan oleh mereka yang kurang kompeten.
Sedang
di Amerika Selatan, beberapa pengamat berpendapat, AIDS turut mempengaruhi
jatuhnya pemerintahan Baby Doc Duvalier di Haiti. Wabah AIDS menyebabkan
hancurnya industri pariwisata yang merupakan tulang punggung ekonomi Haiti.
Mundurnya perekonomian menjadi penunjang jatuhnya pemerintahan.
Selain
itu AIDS berpengaruh pula pada penanaman modal asing. Beberapa penanam modal
kini memasukkan masalah HIV/AIDS dalam mempertimbangkan investasi di Afrika,
Asia, dan Amerika Latin. Tingkat penularan HIV/AIDS yang tinggi dipandang
merupakan kendala bagi tersedianya tenaga kerja lokal serta pasar bagi barang
produksinya. Bahkan lembaga pemberi bantuan memasukkan risiko AIDS dalam
pertimbangannya. Bila suatu proyek dinilai dapat meningkatkan risiko penularan
HIV/AIDS, proyek tersebut mungkin akan dibatalkan.
SENTIMEN
Sebenarnya
tidak diketahui dengan pasti dari mana asalnya AIDS. Dugaan kuat AIDS berasal
dari Afrika, didukung kenyataan HIV/AIDS di benua tersebut berjangkit secara
luas. Namun akibatnya sebagian orang Afrika merasa dideskriditkan. Sebagai counter mereka mengembangkan pendapat
bahwa AIDS justru dibawa bangsa barat ke Afrika.
Di
Amerika Serikat pun AIDS pada awalnya menimbulkan sentimen rasial. Karena warga
kulit hitam lebih banyak terkena AIDS, sempat dilontarkan tuduhan merekalah
penyebabnya. Namun kemudian terungkap tingginya penyebaran HIV/AIDS di kalangan
warga kulit hitam dan kaum hispanik karena tingkat sosial mereka. Kemiskinan,
perkampungan kumuh, parahnya fasilitas kesehatan, rendahnya taraf pendidikan,
serta kehidupan keluarga yang buruk merupakan faktor penyebab meluasnya AIDS di
kalangan mereka. Kondisi tersebut mempengaruhi kehidupan seksual mereka dan
cukup banyak yang terjerumus pada penggunaan narkoba. Selanjutnya penggunaan
narkoba suntikan dengan jarum suntik yang dipakai bergantian merupakan rute
penyebaran HIV/AIDS.
PENYAKIT SOSIAL
AIDS
memang disebabkan oleh virus, tapi penyebarannya karena kondisi masyarakat
dalam bentuk hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti (promiskuisitas),
pengunaan narkoba, kemiskinan, dan sistem kesehatan yang buruk. Kondisi
tersebut merupakan permasalahan sosial yang dihadapi peradaban modern ini. Hingga
dapat dikatakan AIDS merupakan masalah sosial yang menjadi semakin terlihat
dalam bentuk problem kesehatan.
Perilaku
seksual yang bebas di negara barat menjadi penyebab maraknya penyebaran infeksi
HIV. Perilaku tersebut berkembang berdasarkan perubahan nilai-nilai dan kehidupan
sosial yang berlangsung. Bagi para pelakunya, seksualitas lebih dianggap
seabagai sarana untuk mendapatkan kesenangan, dengan demikian hubungan seks
dengan banyak mitra menjadi sesuatu yang banyak dilakukan. Kebebasan seksual
yang diperkirakan dapat meningkatkan kebahagiaan hidup ternyata dengan
berkembangnya AIDS malah menimbulkan kesengsaraan dan permasalahan kesehatan
masyarakat.
Akibat
lain dari peradaban ‘maju’ melahirkan anonimitas, kesepian, rasa tidak berarti
dan kerterpencilan di tengah hiruk pikuknya masyarakat. Di lain pihak kemajuan
juga menghasilkan kesenjangan sosial dalam bentuk perkampungan kumuh
diperkotaan, frustasi, dan kesulitan lapangan kerja. Dalam situasi demikian
banyak kaum muda terseret pada penggunaan narkoba.
Di
negara berkembang kemiskinan telah menyebabkan banyak wanita yang terjerumus ke
lembah pelacuran. Di Afrika dan Asia ternyata pelacuran merupakan sumber utama
penyebaran HIV/AIDS. Penyebaran ini kemudian diikuti penularan dari pria
‘tukang jajan’ kepada istri atau pasangannya, dan mungkin diteruskan pada bayi
yang dilahirkannya.
Di
bekas Uni Sovyet dan Rumania juga menunjukkan betapa kondisi sosial menjadi
penyebab meluasnya HIV/AIDS. Buruknya pelayanan kesehatan di kedua negara
tersebut penyebaran infeksi HIV/AIDS terutama karena jarum suntik yang tidak
steril. Jarum suntik yang sekali pakai serta sarana lain seperti sarung tangan
yang sekali pakai dan bahan desinfektan yang di negara maju biayanya dapat
dengan mudah disediakan, di Eropa Timur dan di negara berkembang bukan hal yang
mudah untuk mendapatkannya.
MENGHADAPI AIDS
Sejarah
menunjukkan, peradaban manusia senantiasa berupaya untuk mengatasi bencana yang
menimpa dirinya. Dalam menghadapi HIV/AIDS agaknya dilakukan dengan perubahan
kehidupan sosial.
Terutama
di negara-negara yang banyak dilanda AIDS, pola perilaku seksual mengalami
perubahan dan dikembangkannya konsep seks yang lebih aman (safer sex). Keluhuran nilai-nilai moralitas dalam kehidupan seksual
mulai lebih diperhatikan. Dalam kehidupan beragama, wabah HIV/AIDS menyebabkan
lebih dihargainya kembali nilai-nilai yang dibawakan ajaran agama. Terhadap
penggunaan narkoba dilakukan peningkatan penanggulangannya, sedang bagi para
pengguna dilakukan rehabilitasi dan program pengurangan mudaratnya (harm reduction).
Sedangkan
bagi kita di Indonesia perlu disadari bahwa kondisi sosial yang menimbulkan
penyebarluasan HIV/AIDS juga terdapat di sini seperti pelacuran, hubungan
seksual dengan banyak mitra, penggunaan narkoba, penggunaan jarum suntik
berulang kali dan tidak suci hama, rendahnya kesadaran masyarakat tentang
bahaya penyakit menular seksual, serta kemiskinan. Tanpa usaha untuk
menghadapinya dapat terjadi ledakan wabah AIDS. Untuk itu yang terbaik adalah
pencegahan melalui perilaku hidup sehat dan memperbaiki kondisi sosial agar tidak
terjadi penyebarluasan HIV/AIDS.
------------------
Dr Paulus
Januar, drg, MS adalah pengajar Ilmu
Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof Dr Moestopo
(Beragama) dan aktifis LSM penanggulangan AIDS


Tidak ada komentar:
Posting Komentar