12.7.16

IMPLIKASI SOSIAL DARI WABAH AIDS


IMPLIKASI SOSIAL DARI WABAH AIDS

Paulus Januar

Dapat dikatakan AIDS (Acute Immuno Deficiency Sindrome) merupakan krisis kesehatan paling serius di jaman modern. Ternyata AIDS bukan hanya masalah kesehatan, lebih jauh lagi berkaitan dengan serentetan masalah sosial yang melanda banyak negara. Dalam mengatasinya  agaknya perlu mempelajari implikasi sosial terjadi di belahan dunia lain yang telah dilanda AIDS agar mampu mengambil kebijaksanaan yang tepat.

PANIK

Munculnya AIDS sebagai penyakit yang misterius dan mengerikan melahirkan gelombang panik yang melanda masyarakat. Apalagi ketika penyebarannya secara tak terduga berlangsung cepat dan menimbulkan banyak kematian. Bahkan AIDS juga menimpa mereka yang tidak bersalah seperti bayi yang ditulari orang tuanya atau mereka yang menerima transfusi darah yang tercemar virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang merupakan  virus penyebab AIDS.

Reaksi spontan adalah mencari penyebabnya. Pertama kali yang dituduh adalah kaum homoseksual. Di Indonesia pun pada awalnya akronim AIDS sering diplesetkan sebagai ‘Akibat Intim Dengan Sejenis’. Implikasinya kaum homoseksual dipandang sebagai kelompok sosial yang mengindap penyakit ini dan menularkannya. Meski kemudian terbukti bahwa penularan terjadi baik pada hubungan heteroseksual maupun homoseksual, namun tidak mudah mengubah pandangan keliru yang sudah tertanam di masyarakat.

Manifestasi lain dari rasa takut terhadap HIV/AIDS dalam bentuk tuntutan untuk melakukan kewajiban pemeriksaan (mandatory testing). Tetapi sebenarnya lebih banyak kerugian ketimbang keuntungannya.  Kewajiban tersebut membutuhkan biaya yang besar sekali. Beberapa pertimbangan mengemukakan, lebih baik biaya tersebut digunakan untuk pendidikan kesehatan masyarakat agar mencegah penularan HIV/AIDS. Malah dikhawatirkan bila kewajiban ini dilaksanakan, bagi mereka yang hasilnya HIV negatif akan tumbuh rasa aman semu hingga mengabaikan prosedur pencegahan. Sedangkan kalau kewajiban hanya pada mereka yang berisiko tinggi, kesulitannya mereka tidak dapat secara jelas diidentifikasi.

Sebagai alternatif yang lebih baik dianjurkan melaksanakan pendidikan kesehatan dan konseling hingga mereka yang berisiko mengindap HIV akan tumbuh kesadaran untuk memeriksakan diri secara sukarela. Di samping itu hasil yang lebih diharapkan dari pendidikan kesehatan adalah terbinanya perilaku yang sesuai dengan norma-norma kesehatan.

Namun pendidikan kesehatan perlu juga dilakukan dengan seksama agar tidak terjadi implikasi sosial seperti di Australia pada tahun 1987. Di negara itu kampanye AIDS dengan tema ‘Grim Reaper’, simbol tradisional mengenai kematian memang sangat sukses menarik perhatian masyarakat. Namun akibatnya masyarakat menjadi takut dan berbondong-bondong meminta diperiksa HIV statusnya. Padahal mereka termasuk kelompok berisiko rendah, sedangkan mereka yang berisiko tinggi malah tidak. Program tersebut ternyata lebih menimbulkan rasa takut, tapi rasa takut tersebut tidak menumbuhkan minat mencari informasi lebih lanjut, dan juga tidak mendorong perubahan perilaku. Belajar dari pengalaman tersebut maka kampanye berikutnya sifatnya tidak terlalu menakutkan, lebih ditujukan pada kelompok sasaran tertentu serta lebih melibatkan masyarakat.

RUSAKNYA ASET NASIONAL

Selain di negara barat, infeksi HIV/AIDS terutama meluas di Afrika. Harga yang harus dibayar akibat berjangkitnya AIDS terutama hilangnya anggota masyarakat yang masih produktif, khususnya yang berusia 20-40 tahun. Di banyak negara Afrika yang terkena terutama tenaga kerja terdidik. Mereka banyak terkena HIV/AIDS karena tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi berkorelasi dengan jumlah partner seksual dan juga karena mereka lebih mampu plesir ke tempat pelacuran.
         
Efeknya terasa sekali terutama di negara miskin di Afrika yang tenaga terdidiknya sangat sedikit. Di beberapa negara Afrika bahkan banyak perusahaan harus tutup karena kehilangan pegawainya. AIDS mempengaruhi kepemimpinan dan stabilitas politik beberapa negara Afrika, karena jumlah kaum terdidik sedikit, maka mereka akan digantikan oleh mereka yang kurang kompeten.

Sedang di Amerika Selatan, beberapa pengamat berpendapat, AIDS turut mempengaruhi jatuhnya pemerintahan Baby Doc Duvalier di Haiti. Wabah AIDS menyebabkan hancurnya industri pariwisata yang merupakan tulang punggung ekonomi Haiti. Mundurnya perekonomian menjadi penunjang jatuhnya pemerintahan.

Selain itu AIDS berpengaruh pula pada penanaman modal asing. Beberapa penanam modal kini memasukkan masalah HIV/AIDS dalam mempertimbangkan investasi di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Tingkat penularan HIV/AIDS yang tinggi dipandang merupakan kendala bagi tersedianya tenaga kerja lokal serta pasar bagi barang produksinya. Bahkan lembaga pemberi bantuan memasukkan risiko AIDS dalam pertimbangannya. Bila suatu proyek dinilai dapat meningkatkan risiko penularan HIV/AIDS, proyek tersebut mungkin akan dibatalkan.

SENTIMEN

Sebenarnya tidak diketahui dengan pasti dari mana asalnya AIDS. Dugaan kuat AIDS berasal dari Afrika, didukung kenyataan HIV/AIDS di benua tersebut berjangkit secara luas. Namun akibatnya sebagian orang Afrika merasa dideskriditkan. Sebagai counter mereka mengembangkan pendapat bahwa AIDS justru dibawa bangsa barat ke Afrika.

Di Amerika Serikat pun AIDS pada awalnya menimbulkan sentimen rasial. Karena warga kulit hitam lebih banyak terkena AIDS, sempat dilontarkan tuduhan merekalah penyebabnya. Namun kemudian terungkap tingginya penyebaran HIV/AIDS di kalangan warga kulit hitam dan kaum hispanik karena tingkat sosial mereka. Kemiskinan, perkampungan kumuh, parahnya fasilitas kesehatan, rendahnya taraf pendidikan, serta kehidupan keluarga yang buruk merupakan faktor penyebab meluasnya AIDS di kalangan mereka. Kondisi tersebut mempengaruhi kehidupan seksual mereka dan cukup banyak yang terjerumus pada penggunaan narkoba. Selanjutnya penggunaan narkoba suntikan dengan jarum suntik yang dipakai bergantian merupakan rute penyebaran HIV/AIDS.
         
PENYAKIT SOSIAL
         
AIDS memang disebabkan oleh virus, tapi penyebarannya karena kondisi masyarakat dalam bentuk hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti (promiskuisitas), pengunaan narkoba, kemiskinan, dan sistem kesehatan yang buruk. Kondisi tersebut merupakan permasalahan sosial yang dihadapi peradaban modern ini. Hingga dapat dikatakan AIDS merupakan masalah sosial yang menjadi semakin terlihat dalam bentuk problem kesehatan.
Perilaku seksual yang bebas di negara barat menjadi penyebab maraknya penyebaran infeksi HIV. Perilaku tersebut berkembang berdasarkan perubahan nilai-nilai dan kehidupan sosial yang berlangsung. Bagi para pelakunya, seksualitas lebih dianggap seabagai sarana untuk mendapatkan kesenangan, dengan demikian hubungan seks dengan banyak mitra menjadi sesuatu yang banyak dilakukan. Kebebasan seksual yang diperkirakan dapat meningkatkan kebahagiaan hidup ternyata dengan berkembangnya AIDS malah menimbulkan kesengsaraan dan permasalahan kesehatan masyarakat.

Akibat lain dari peradaban ‘maju’ melahirkan anonimitas, kesepian, rasa tidak berarti dan kerterpencilan di tengah hiruk pikuknya masyarakat. Di lain pihak kemajuan juga menghasilkan kesenjangan sosial dalam bentuk perkampungan kumuh diperkotaan, frustasi, dan kesulitan lapangan kerja. Dalam situasi demikian banyak kaum muda terseret pada penggunaan narkoba.

Di negara berkembang kemiskinan telah menyebabkan banyak wanita yang terjerumus ke lembah pelacuran. Di Afrika dan Asia ternyata pelacuran merupakan sumber utama penyebaran HIV/AIDS. Penyebaran ini kemudian diikuti penularan dari pria ‘tukang jajan’ kepada istri atau pasangannya, dan mungkin diteruskan pada bayi yang dilahirkannya.

Di bekas Uni Sovyet dan Rumania juga menunjukkan betapa kondisi sosial menjadi penyebab meluasnya HIV/AIDS. Buruknya pelayanan kesehatan di kedua negara tersebut penyebaran infeksi HIV/AIDS terutama karena jarum suntik yang tidak steril. Jarum suntik yang sekali pakai serta sarana lain seperti sarung tangan yang sekali pakai dan bahan desinfektan yang di negara maju biayanya dapat dengan mudah disediakan, di Eropa Timur dan di negara berkembang bukan hal yang mudah untuk mendapatkannya.

MENGHADAPI AIDS
         
Sejarah menunjukkan, peradaban manusia senantiasa berupaya untuk mengatasi bencana yang menimpa dirinya. Dalam menghadapi HIV/AIDS agaknya dilakukan dengan perubahan kehidupan sosial.

Terutama di negara-negara yang banyak dilanda AIDS, pola perilaku seksual mengalami perubahan dan dikembangkannya konsep seks yang lebih aman (safer sex). Keluhuran nilai-nilai moralitas dalam kehidupan seksual mulai lebih diperhatikan. Dalam kehidupan beragama, wabah HIV/AIDS menyebabkan lebih dihargainya kembali nilai-nilai yang dibawakan ajaran agama. Terhadap penggunaan narkoba dilakukan peningkatan penanggulangannya, sedang bagi para pengguna dilakukan rehabilitasi dan program pengurangan mudaratnya (harm reduction).

Sedangkan bagi kita di Indonesia perlu disadari bahwa kondisi sosial yang menimbulkan penyebarluasan HIV/AIDS juga terdapat di sini seperti pelacuran, hubungan seksual dengan banyak mitra, penggunaan narkoba, penggunaan jarum suntik berulang kali dan tidak suci hama, rendahnya kesadaran masyarakat tentang bahaya penyakit menular seksual, serta kemiskinan. Tanpa usaha untuk menghadapinya dapat terjadi ledakan wabah AIDS. Untuk itu yang terbaik adalah pencegahan melalui perilaku hidup sehat dan memperbaiki kondisi sosial agar tidak terjadi penyebarluasan HIV/AIDS.

------------------

Dr Paulus Januar, drg, MS adalah pengajar Ilmu Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) dan aktifis LSM penanggulangan AIDS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar