AIDS SEBAGAI PERMASALAHAN JAMAN
Paulus Januar
HIV/AIDS dapat dikatakan
salah satu pertanda jaman ini. HIV/AIDS yang dengan pesat menyebar di seluruh
dunia telah mengakibatkan jutaan orang
meninggal dan terinfeksi HIV. Selain permasalahan kesehatan, HIV/AIDS juga
merebak menjadi permasalahan sosial dalam bentuk pengucilan, gelombang panik,
dan stigmatisasi.
Kini penanggulangan
HIV/AIDS meliputi pencegahan penularan, meningkatkan akses pengobatan, serta
mengurangi dampak sosial penyakit tersebut. Penularan terutama melalui perilaku
yang berisiko yakni hubungan seks dengan pengindap HIV dan melalui jarum suntik
yang digunakan secara bergantian di kalangan pecandu narkoba. Di masa lalu
memang AIDS sama sekali tidak dapat diobati dan berakhir dengan kematian.
Sekarang telah terdapat obat ARV (anti retroviral) yang dapat menurunkan kadar
HIV hingga tidak terdeteksi. Namun obat tersebut harus terus menerus digunakan
dan bila dihentikan kadar HIV akan meningkat kembali. Meski sudah terdapat
dalam bentuk obat generik, ternyata bagi banyak penderita masih terlalu mahal, terutama di negara-negara miskin.
Penelitian menunjukkan,
kemungkinan perempuan terinfeksi HIV sekitar 2,5 kali lebih besar dibandingkan
pria. Hal ini selain karena secara biologis melalui hubungan seksual perempuan
lebih mudah tertular, namun terlebih lagi karena lemahnya kedudukan sosial,
ekonomi, dan juga dalam relasi seksual. Sekitar setengah dari penderita
HIV/AIDS adalah perempuan dan sebagian besar terinfeksi dari suaminya yang
tidak setia. Kemudian bila terinfeksi HIV, perempuan seringkali prioritasnya
lebih rendah untuk mendapatkan pengobatan terutama bila menyangkut biaya yang
besar.
Remaja
usia 15-24 tahun yang terinfeksi HIV sebagian besar tidak
memiliki akses untuk informasi yang benar maupun pelayanan kesehatan. Di negara
berkembang, dari mereka yang baru terinfeksi HIV banyak dari kalangan remaja. Salah
satu upaya menanggulanginya melalui pendidikan dan pembinaan kaum muda agar
mendapatkan informasi yang benar serta menumbuhkan perilaku yang positif untuk
pencegahan HIV/AIDS.
Kenyataan meningkatnya
HIV/AIDS menuntut untuk bertindak atau keadaan menjadi lebih parah. Namun
persoalannya tidak mudah. Pencegahan tidak dapat efektif dilakukan karena masih
dijalankannya perilaku yang berisiko penularan. Terhadap penderita HIV meski
terdapat obatnya namun kepentingan ekonomi maupun sistem pelayananan kesehatan
yang buruk kerap menghambat penggunaannya untuk orang miskin. Menghadapi hal
ini beberapa LSM kini selain menyelenggarakan kegiatan pencegahan juga
mengusahakan penyediaan obat ARV bagi penderita kurang mampu.
Permasalahan
HIV/AIDS menjadi semakin kompleks sehubungan stigmatisasi dan diskriminasi yang
umumnya berasal dari ketidaktahuan, dan penyangkalan maupun juga sikap munafik.
Masih terdapat perilaku yang menghakimi dan menyudutkan ODHA (Orang Dengan
HIV/AIDS). Demikian pula rasa takut yang berlebihan seringkali menyebabkan
penderita HIV/AIDS dijauhkan dari pergaulan, terkena PHK, dan diusir dari
tempat tinggalnya. Selama ini para aktifis penanggulangan AIDS mengusahakan
agar masyarakat bersikap wajar dan memberi dukungan pada para Odha agar tetap
hidup normal dan produktif, apalagi kini sudah terdapat obat untuk
mengatasinya.
Terdapat
pula pandangan keliru yang menganggap AIDS merupakan kutukan Tuhan. Bila AIDS
merupakan kutukan terhadap pendosa bagaimana menjelaskan mengenai istri yang
tertular dari suaminya yang menyeleweng, atau bayi yang terinfeksi dari ibu
yang mengandungnya. Kemudian kalau Tuhan menghukum pendosa seksual dan narkoba
dengan AIDS, mengapa dosa yang lebih berat tidak dihukum dengan penyakit yang
lebih parah lagi?
Mungkin
akan lebih tepat bila memandang AIDS sebagai permasalahan sekaligus pertanda
jaman untuk menggugah ditegakkannya moralitas dan penghargaan akan kehidupan.
Kemudian berhadapan dengan mereka yang terkena HIV/AIDS akan tumbuh solidaritas
dengan sesama yang menderita. Sedang terhadap perempuan yang tertular
diharapkan berkembang perhatian terhadap kaum yang termarginalisasi. Semoga ini
menjadi refleksi kita bersama.
----------------
Penulis
adalah staf Laboratorium Kesehatan Masyarakat Universitas Prof Dr. Moestopo –
Jakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar