12.7.16

AIDS SEBAGAI PERMASALAHAN JAMAN

AIDS SEBAGAI PERMASALAHAN JAMAN


Paulus Januar

HIV/AIDS dapat dikatakan salah satu pertanda jaman ini. HIV/AIDS yang dengan pesat menyebar di seluruh dunia telah mengakibatkan  jutaan orang meninggal dan terinfeksi HIV. Selain permasalahan kesehatan, HIV/AIDS juga merebak menjadi permasalahan sosial dalam bentuk pengucilan, gelombang panik, dan stigmatisasi.

Kini penanggulangan HIV/AIDS meliputi pencegahan penularan, meningkatkan akses pengobatan, serta mengurangi dampak sosial penyakit tersebut. Penularan terutama melalui perilaku yang berisiko yakni hubungan seks dengan pengindap HIV dan melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian di kalangan pecandu narkoba. Di masa lalu memang AIDS sama sekali tidak dapat diobati dan berakhir dengan kematian. Sekarang telah terdapat obat ARV (anti retroviral) yang dapat menurunkan kadar HIV hingga tidak terdeteksi. Namun obat tersebut harus terus menerus digunakan dan bila dihentikan kadar HIV akan meningkat kembali. Meski sudah terdapat dalam bentuk obat generik, ternyata bagi banyak penderita masih terlalu mahal, terutama di negara-negara miskin.

Penelitian menunjukkan, kemungkinan perempuan terinfeksi HIV sekitar 2,5 kali lebih besar dibandingkan pria. Hal ini selain karena secara biologis melalui hubungan seksual perempuan lebih mudah tertular, namun terlebih lagi karena lemahnya kedudukan sosial, ekonomi, dan juga dalam relasi seksual. Sekitar setengah dari penderita HIV/AIDS adalah perempuan dan sebagian besar terinfeksi dari suaminya yang tidak setia. Kemudian bila terinfeksi HIV, perempuan seringkali prioritasnya lebih rendah untuk mendapatkan pengobatan terutama bila menyangkut biaya yang besar.

Remaja usia 15-24 tahun yang terinfeksi HIV sebagian besar tidak memiliki akses untuk informasi yang benar maupun pelayanan kesehatan. Di negara berkembang, dari mereka yang baru terinfeksi HIV banyak dari kalangan remaja. Salah satu upaya menanggulanginya melalui pendidikan dan pembinaan kaum muda agar mendapatkan informasi yang benar serta menumbuhkan perilaku yang positif untuk pencegahan HIV/AIDS.

Kenyataan meningkatnya HIV/AIDS menuntut untuk bertindak atau keadaan menjadi lebih parah. Namun persoalannya tidak mudah. Pencegahan tidak dapat efektif dilakukan karena masih dijalankannya perilaku yang berisiko penularan. Terhadap penderita HIV meski terdapat obatnya namun kepentingan ekonomi maupun sistem pelayananan kesehatan yang buruk kerap menghambat penggunaannya untuk orang miskin. Menghadapi hal ini beberapa LSM kini selain menyelenggarakan kegiatan pencegahan juga mengusahakan penyediaan obat ARV bagi penderita kurang mampu.   

Permasalahan HIV/AIDS menjadi semakin kompleks sehubungan stigmatisasi dan diskriminasi yang umumnya berasal dari ketidaktahuan, dan penyangkalan maupun juga sikap munafik. Masih terdapat perilaku yang menghakimi dan menyudutkan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Demikian pula rasa takut yang berlebihan seringkali menyebabkan penderita HIV/AIDS dijauhkan dari pergaulan, terkena PHK, dan diusir dari tempat tinggalnya. Selama ini para aktifis penanggulangan AIDS mengusahakan agar masyarakat bersikap wajar dan memberi dukungan pada para Odha agar tetap hidup normal dan produktif, apalagi kini sudah terdapat obat untuk mengatasinya.    

Terdapat pula pandangan keliru yang menganggap AIDS merupakan kutukan Tuhan. Bila AIDS merupakan kutukan terhadap pendosa bagaimana menjelaskan mengenai istri yang tertular dari suaminya yang menyeleweng, atau bayi yang terinfeksi dari ibu yang mengandungnya. Kemudian kalau Tuhan menghukum pendosa seksual dan narkoba dengan AIDS, mengapa dosa yang lebih berat tidak dihukum dengan penyakit yang lebih parah lagi?  

Mungkin akan lebih tepat bila memandang AIDS sebagai permasalahan sekaligus pertanda jaman untuk menggugah ditegakkannya moralitas dan penghargaan akan kehidupan. Kemudian berhadapan dengan mereka yang terkena HIV/AIDS akan tumbuh solidaritas dengan sesama yang menderita. Sedang terhadap perempuan yang tertular diharapkan berkembang perhatian terhadap kaum yang termarginalisasi. Semoga ini menjadi refleksi kita bersama.

----------------
Penulis adalah staf Laboratorium Kesehatan Masyarakat Universitas Prof Dr. Moestopo – Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar