12.7.16

KOMITMEN DALAM MENANGGULANGI AIDS

TUNTUTAN KOMITMEN DALAM MENANGGULANGI AIDS 

Paulus Januar

Komitmen diperlukan dalam penanggulangan penyebaran HIV/AIDS, termasuk pula dalam permasalahan utama yang melingkupinya seperti kemiskinan dan perlunya pendidikan kesehatan bagi masyarakat. Kenyataan menunjukkan, di seluruh dunia termasuk di Indonesia, komitmen dalam penangulangan HIV/AIDS menjadi permasalahan serius.

KEMISKINAN

Penduduk negara berkembang dan negara miskin terutama di Afrika merupakan bagian terbesar penderita AIDS. Saat ini sekitar 95% penularan HIV/AIDS terjadi di negara-negara berkembang dan negara-negara miskin. Sementara di negara maju terjadi peningkatan pencegahan AIDS, sedangkan di negara berkembang kemiskinan menjadi faktor penyebab utama meningkatnya penyebaran AIDS. Kemiskinan menyebabkan terbengkalainya sektor kesehatan dan pendidikan. Di samping itu kemiskinan menyebabkan banyak perempuan terhempas ke dunia pelacuran untuk menyambung hidupnya. 

Namun celakanya, dalam rangka mengatasi kemiskinan, berdasarkan resep perbaikan ekonomi dari IMF dan Bank Dunia berlangsung pengurangan dana bagi sektor kesehatan, pendidikan, dan pelayanan umum lainnya. Dalam situasi ini, upaya pencegahan dan perawatan AIDS semakin tidak dapat dijalankan hingga penyakit AIDS semakin merebak.   

Selama ini terdapat bantuan dari negara-negara maju untuk penanggulangan AIDS, namun salah urus dan korupsi mengakibatkan cukup banyak dana tidak mencapai sasaran. Sementara itu perusahaan farmasi besar selama ini berusaha mengeruk keuntungan besar dari penjualan obat-obat anti retroviral untuk penderita HIV/AIDS sambil berusaha merintangi negara-negara berkembang dalam pembuatan obat-obat generik yang murah. 

PENDIDIKAN

Salah satu unsur pokok untuk mengatasi HIV/AIDS adalah melalui pendidikan. Penelitian menunjukkan pendidikan mengurangi kerentanan terhadap penularan HIV. Dibandingkan dengan rekan sebayanya yang putus sekolah, ternyata remaja yang masih melanjutkan sekolahnya menunjukkan tingkat pengetahuan yang lebih baik, serta cenderung menunda hubungan seks pertamanya, di samping lebih  mengupayakan proteksi diri terhadap penyakit menular seksual.

Namun upaya pencegahan HIV/AIDS melalui pendidikan seringkali mengalami hambatan karena pandangan konservatif yang mentabukan pembahasan mengenai seksualitas. Di samping itu permasalahan kerap timbul dari stigmatisasi terhadap penyakit HIV/AIDS sebagai kutukan dan sikap mengucilkan penderitanya.

Dalam rangka menanggulangi penyebaran HIV/AIDS maka dalam pendidikan selain memberikan pengetahuan mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi, juga diperlukan penanaman kesadaran yang berorientasi pada harkat kemanusiaan dan kesetaraan gender. Di samping itu patut disadari di negara berkembang dan terutama di negara miskin, kerapkali tidak semua anak dapat menempuh pendidikan formal di sekolah. Dengan demikian proses pendidikan harus dijalankan dalam pengertian yang luas yakni pendidikan di keluarga, di masyarakat, di tempat kerja, serta melalui tenaga kesehatan maupun melalui media massa.
          .
TANGGUNG JAWAB BERSAMA

AIDS ternyata bukan masalah kesehatan semata namun juga melingkupi masalah kemasyarakatan umum seperti kemiskinan, ketidaksetaraan gender, dan pendidikan.  Dengan demikian dituntut komitmen serta akuntabilitas pelaksanaannya dari semua pihak. Agaknya perlu ditingkatkan lagi penangulangan HIV/AIDS yang merupakan tanggung jawab semua pihak, bukan hanya sektor kesehatan namun juga  pemimpin negara adidaya, maupun negara berkembang, masyarakat sipil, LSM, organisasi masyarakat, sektor bisnis, lembaga keagamaan, dsb. 

------------------------------
Dr Paulus Januar adalah staf Laboratorium Kesehatan Masyarakat Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) - Jakarta  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar