TUNTUTAN KOMITMEN DALAM MENANGGULANGI AIDS
Paulus Januar
Komitmen
diperlukan dalam penanggulangan penyebaran HIV/AIDS, termasuk pula dalam
permasalahan utama yang melingkupinya seperti kemiskinan dan perlunya
pendidikan kesehatan bagi masyarakat. Kenyataan menunjukkan, di seluruh dunia
termasuk di Indonesia, komitmen dalam penangulangan HIV/AIDS menjadi
permasalahan serius.
KEMISKINAN
Penduduk
negara berkembang dan negara miskin terutama di Afrika merupakan bagian
terbesar penderita AIDS. Saat ini sekitar 95% penularan HIV/AIDS terjadi di
negara-negara berkembang dan negara-negara miskin. Sementara di negara maju
terjadi peningkatan pencegahan AIDS, sedangkan di negara berkembang kemiskinan
menjadi faktor penyebab utama meningkatnya penyebaran AIDS. Kemiskinan
menyebabkan terbengkalainya sektor kesehatan dan pendidikan. Di samping itu
kemiskinan menyebabkan banyak perempuan terhempas ke dunia pelacuran untuk
menyambung hidupnya.
Namun
celakanya, dalam rangka mengatasi kemiskinan, berdasarkan resep perbaikan
ekonomi dari IMF dan Bank Dunia berlangsung pengurangan dana bagi sektor
kesehatan, pendidikan, dan pelayanan umum lainnya. Dalam situasi ini, upaya
pencegahan dan perawatan AIDS semakin tidak dapat dijalankan hingga penyakit
AIDS semakin merebak.
Selama
ini terdapat bantuan dari negara-negara maju untuk penanggulangan AIDS, namun
salah urus dan korupsi mengakibatkan cukup banyak dana tidak mencapai sasaran.
Sementara itu perusahaan farmasi besar selama ini berusaha mengeruk keuntungan
besar dari penjualan obat-obat anti retroviral untuk penderita HIV/AIDS sambil
berusaha merintangi negara-negara berkembang dalam pembuatan obat-obat generik
yang murah.
PENDIDIKAN
Salah
satu unsur pokok untuk mengatasi HIV/AIDS adalah melalui pendidikan. Penelitian
menunjukkan pendidikan mengurangi kerentanan terhadap penularan HIV.
Dibandingkan dengan rekan sebayanya yang putus sekolah, ternyata remaja yang
masih melanjutkan sekolahnya menunjukkan tingkat pengetahuan yang lebih baik,
serta cenderung menunda hubungan seks pertamanya, di samping lebih mengupayakan proteksi diri terhadap penyakit
menular seksual.
Namun
upaya pencegahan HIV/AIDS melalui pendidikan seringkali mengalami hambatan
karena pandangan konservatif yang mentabukan pembahasan mengenai seksualitas.
Di samping itu permasalahan kerap timbul dari stigmatisasi terhadap penyakit
HIV/AIDS sebagai kutukan dan sikap mengucilkan penderitanya.
Dalam
rangka menanggulangi penyebaran HIV/AIDS maka dalam pendidikan selain
memberikan pengetahuan mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi, juga
diperlukan penanaman kesadaran yang berorientasi pada harkat kemanusiaan dan
kesetaraan gender. Di samping itu patut disadari di negara berkembang dan
terutama di negara miskin, kerapkali tidak semua anak dapat menempuh pendidikan
formal di sekolah. Dengan demikian proses pendidikan harus dijalankan dalam
pengertian yang luas yakni pendidikan di keluarga, di masyarakat, di tempat
kerja, serta melalui tenaga kesehatan maupun melalui media massa.
.
TANGGUNG JAWAB
BERSAMA
AIDS
ternyata bukan masalah kesehatan semata namun juga melingkupi masalah
kemasyarakatan umum seperti kemiskinan, ketidaksetaraan gender, dan
pendidikan. Dengan demikian dituntut
komitmen serta akuntabilitas pelaksanaannya dari semua pihak. Agaknya perlu ditingkatkan
lagi penangulangan HIV/AIDS yang merupakan tanggung jawab semua pihak, bukan
hanya sektor kesehatan namun juga
pemimpin negara adidaya, maupun negara berkembang, masyarakat sipil,
LSM, organisasi masyarakat, sektor bisnis, lembaga keagamaan, dsb.
------------------------------
Dr
Paulus Januar adalah staf Laboratorium Kesehatan Masyarakat Universitas Prof Dr
Moestopo (Beragama) - Jakarta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar